Salah satu prosedur penting dari rangkaian perwujudan cita-cita adalah melewati etape kegagalan. Hanya saja, kerap kali kegagalan dieskalasi menjadi ketakutan berjangka panjang, yang pada gilirannya malah mendistraksi diri kita; mulai tak berani mencoba lagi, takut mengambil risiko, hingga kecemasan yang berlebihan.

Kegagalan itu menjadi lama dan larut dalam hidup kita, lantaran kita kurang tepat mempersepsikan, sekaligus keliru menghayatinya. Kalaulah kita mau merekonstruksi cara pandang kita tentang kegagalan itu sendiri, maka kegagalan itu akan kembali pada fitrahnya, yaitu fase yang menghiasi atau memperindah setiap puzzle kehidupan kita. Dalam kalimat yang beda, bisa kita sebut: kegagalan yang artistik.

Sampai di sini, seluruh bauran persepsi kita tentang kegagalan, itu bukan lagi sebuah bencana atau penghambat, melainkan suatu nilai keindahan hidup. Coba pikirkan, bahwa untuk mencapai sebuah kegagalan saja, kita butuh banyak energi. Pikiran, tenaga, dan emosi kerap kali mengalami benturan hebat yang memungkinkan kita kehilangan daya juang, lalu akhirnya roboh.

Tak hanya kesuksenlah yang membutuhkan banyak energi, tapi kegagalan pun memerlukan formula yang kurang lebih, sama. Jadi, apabila kita mengalami kegagalan, maka itu patut disyukuri untuk bangkit lagi dan lagi, bukan diratapi begitu lama.

Kalkulasi yang tepat ketika gagal, akan menjaga peluang kita untuk terus berada dalam sirkuit kesuksesan, bahkan mendatangkan sejumlah keuntungan:

Pertama, memperkuat  daya juang. Kita yang sering kali gagal, secara alamiah akan memiliki daya tahan lebih ketika mengalami kegagalan berikutnya, baik pikir, fisik, maupun psikis. Mengapa? Sebab sudah kodratinya manusia memiliki survival instinct. 

Kedua, meningkatkan daya analitik atas sabab-musabab kegagalan. Hasilnya, kita dimungkinkan mampu bergerak lebih efisien dan dinamis karena telah memiliki bekal instrospeksi yang cukup dari kegagalan sebelumnya.

Ketiga, momentum pelipatgandaan quota kesabaran sekaligus kesadaran penerimaan, bahwa setiap kegagalan mesti disikapi dengan lapang dada dan penuh prasangka baik.

Terakhir, saya punya sedikit saran sederhana saja dari bahasan ini: buatlah setiap kegagalan kita adalah bagian dari pola hidup yang artistik, bukan yang tragedik.
#shulhanologi #shulhanrumaru

Baca Selengkapnya >>>
0 komentar


Selembar daun tua nampak lunglai. Ia terkapar kehabisan tenaga, seperti akan tercerabut dari sepotong ranting yang digelayutinya sejak hijau dulu. Keriput epidermis dan warna yang berganti kecoklatan, menunjukkan usia sebenarnya; sudah tak memungkinkan lagi baginya menjadi bagian dari kelompok fotosintesis dedaunan muda.

Lemas sudah, pasrah, kini ia menunggu angin membawa ajalnya. Satu dua kibasan, bergoyang batang daunnya pelan, lalu empasan ketiga membuat daun tua itu terkoyak. Terombang-ambinglah dirinya yang sendiri, ke depan, ke belakang, terhuyung ke kiri, lalu ke kanan mengikuti arus angin. Ia pasrah. Sembari menikmati kejatuhannya, daun tua itu sempat mengulang memori baktinya pada sang pohon yang masih tegak menjulang. 

Napasnya telah tersengal, tertahan satu-satu, dan mulai melemah. Semakin ke bawah, sisa-sisa cadangan oksigennya kian menipis. Yang ia rasakan kini, tarikan paksa gravitasi mengempaskannya ke bumi. Dan tatkala hampir menyentuh permukaan, daun tua itu menyadari; dari tanah, akhirnya kembali ke tanah.  #ceritamini #shulhanrumaru




Baca Selengkapnya >>>
0 komentar

Lihat gambar di atas baik-baik, dan begini ceritanya...

Dulu, sewaktu nyantri di Ciamis, sandal jepit swallow hijau gw suka ilang diambil santri lain (sesekali hanya dighosob alias dipake gak bilang2, trus udah lama baru dibalikin). Alhasil, gw bikin kayak di gambar persis. Tulisannya,  USTADZ (capital letters) dan tentunya gw gembok pula (biar makin aman). Alhamdulillah, hari itu, jadi Sholat Jumat terkhusyu gw krn gak was-was lagi bakal kehilangan sandal. Lah kok, selesai Jumatan, masih tetep ilang? Arrrggg, sumpah kesel ke ubun-ubun dong gw. Lantas, gw usutlah siapa pelaku "kejahatan" itu. 😁

Di tengah ke-riweuh-an bercampur kesal yang berkecamuk, tiba-tiba datang seorang kawan dgn wajah berbinar penuh bahagia, dan bilang:

"Han..." hahaha...ketawa terbahak seolah menjeda sebuah cerita yg bakal kocak abis.

"Ini hari, bakal jadi cerita indah gw seumur hidup..." hahaha...ketawa lagi tnp gw tau apa yang mau dia ceritain.

"Tadi, gw buang sandal jepit USTADZ kita di pembuangan sampah besar. Gila, lagian pake digembok segala..." haa... "Pok..." belum sempat dia tuntasin ketawanya, satu "tamparan" manis mendarat di pipinya.

"Itu punya gw, coooyyyy...." Tanpa komando, doi langsung ngikut gw ke TKP dan ambil lagi sandal kesayangan itu, JEPIT Swallow hijau. Sekian!!! 😂😁
#nyantiituasyik #nostalgiasantri #cetitajamannyantri
Baca Selengkapnya >>>
0 komentar
shutterstock.com


Perempuan tua itu menghadap pantai, menyapu pandangan pada sekumpulan ombak yang berlomba ke arahnya. Ia masih duduk membelakangi kawanan kamboja dan aku melewatinya. Lagi, ia masih bergeming. Nampak seperti ia menanti kenangan. Tiga kali sudah, saat keringat mulai melewati parit-parit kecil di wajahku dan dada yang mulai hosa memompa udara, aku beranikan diri menyapanya sembari mengatur istirahat.

"Sepagi dini, nenek kenapa di sini?"

"Berdialog dengan angin," jawabnya tanpa menoleh ke arahku.

"Masih dingin, nek. Angin pasti mengoyak keriputmu."

"Ah, anak muda, merasa tau segala ihwal. Kamu hanya melihat sejauh matamu, seperti para birokrat myopia."

"Aku merasa terhibur di sini. Kesunyian yang ramai. Tak seperti sepi dalam keramaian manusia mekanis di jantung pulau ini." Ia menyambung kalimat yang seakan terputus tadi, tanpa membiarkanku menyuguh balasan.

"Siapa yang menghiburmu?"

"Dia, lelaki itu." Ditunjuknya sebongkah karang yang dihantam ombak bertubi-tubi.

Kuperhatikan, ia seakan berbincang dengan masa lalu. Pasti teramat indah, sampai ia terburu-buru ke pantai ini dengan berkebaya lusuh sebelum matahari menunjukkan kuasanya. Aku tak abis pikir, sepahit itu kah kenangan bila ia tinggalkan? Siapa lelaki misterius di karang sana? Tak tega rasanya, melihat tubuh tua itu melawan dingin dan embun yang basah, hanya untuk duduk di sini. Letih pun hilang, ku hela napas perlahan dan dalam sekedar memberi jeda pada obrolan kami.

"Nak, saat bulan purna berpayung pelangi, aku dan segerombolan anak kura-kura bermain di sini. Kami melawan beberapa burung jagal yang mau mematuk telur saudara mereka. Sesekali ku tutup rapat lubang-lubang yang digali sang induk untuk mengeram telurnya dengan rumput dan sedikit pasir. Lalu, lelaki itu datang membawa sebagian lain untuk dilepas ke laut."

Aku hidmat, mendengar ia melanjutkan cerita meski pun aku tak tau dari mana datangnya. Yang aku tahu, perempuan tua ini lebih dulu tiba di tubir pantai saat aku datang.

"Bulan pake payung, teteruga batalor..." Suara paraunya melantunkan lagu klasik kala aku masih 10 tahun. Lagu yang mengabarkan aktivitas kura-kura betina menghabiskan masa betelurnya di pesisir pantai saat bulan purnama.

Hmmm, perempuan tua itu seakan tau lagu kesukaanku tempo dulu. Sepertinya ia sedang menebak masa kecilku, dimana aku bermain di pinggir pantai saat bulan bundar sepenuhnya berhias pelangi, dan butiran pasir putih yang terlihat bak pecahan kaca memantulkan cahaya.

Aku menatapnya lekat-lekat. Pilu bagiku membaca kenangan di mata perempuan tua itu, begitu penuh, sesak, dan belum lapuk meski uzur merenggut usianya. Aku seakan diajarkan bertelanjang dengan masa lalu. Diajarkan jujur pada kenyataan, tentang apa saja, tentang rindu.

"Aku masih muda belia, waktu itu. Sama seperti gadis lain yang sedang mekar. Banyak lelaki menyuguhkan budi, menampakkan sisi maskulin, memburu bak kumbang menghisap habis saripati. Tapi lelaki itu, lain. Sangat lain." Kisahnya sambil mengarahkan telunjuk ke karang yang sama.

“Ah... mungkin dimasa mudanya, jakun para lelaki sulit menari. Bahkan, mereka banyak meminum liur sendiri lebih dari kebutuhan delapan gelas seharian. Nampak gurat keriputnya masih menyisakan kecantikan parasnya bertahun silam…”

"Dia memfilsafatiku." Sedak tangisnya membongkar lamunanku. Duh, iIngin sekali kupungut air matanya biar tak berserakan. Tapi, lelaki juru kunci di belakang perempuan tua itu teriak mengagetkan.

"Jangan lama-lama di situ. Sudah bertahun lapuk dia menatap karang dan membelakangi ratusan kuburan di sini, menunggu ajal bersama kenangannya."

Iya, sudah waktunya aku pulang. Matahari nampak merayap naik dengan cepat. Aku terpaksa meninggalkan perempuan tua itu, yang sayup-sayup sempat ku dengar ia merapal; "Amin", menimpali lelaki tadi. (SR)

Baca Selengkapnya >>>
0 komentar

Kau bertawaf dalam pikiranku
Mengelilingi kenangan yang terpancang
Berteduh di bawah langit hatiku
Hujan pun menabur pesonamu

Dari sekian doa
Yang aku tak tahu lagi berapa jumlahnya
Kuharap Tuhan menyajikannya
Sebagai kebahagiaan untukmu
Hanya teruntuk kamu
Kenangan (SR)
Baca Selengkapnya >>>
0 komentar


Kini rindu menjadi komoditas dalam bentuk narasi-narasi yang dipajang di etalase media sosial. Semua orang hanya butuh menunduk, memilah beberapa kata di antara tombol-tombol perangkat canggih mereka, lalu menjualnya dalam sekali tekan.

Pujangga sekarang  tak lagi pandai membaca puisi sebab rimanya telah digantikan emoticon dan bait-baitnya hanya 140 karakter yang berulang-ulang.

Mungkin saja, para jujaro masa kini lebih senang digumuli teks, ketimbang pita suara yang gombal. Duh, rindu masa kini seakan hanya teks dan gambar. Suara dan cumbu di telinga tak lagi menggelikan,  seperti masa dimana kita hanya hidup dalam narasi, dan mati saat suara mengumbar kesaksian terakhir.

Ah, ini seperti bunga yang menunggu serbuk sari dari ladang sebelah. Mereka tak berteriak, tapi menunggu angin membawanya bersama senyap.

Akankah aku membeli rindu yang dijual lewat narasi-narasi itu? Mungkin saja. Pasar sudah direkayasa bagi semua orang tuk menjajakan rindu lewat teks. (Shulhan R)
Baca Selengkapnya >>>
0 komentar

Sujudku transaksional
Sebab hanya kalau ada maunya
Sedikit mensejajarkan jidat dan hidung di atas sajadah
Lalu aku meminta sebanyak-banyaknya

Sujudku gratifikasi
Bermodal seonggok ketaatan yang sumir
Aku merengek meminta garis takdir yang baru
Tanpa mau berpayah-payah lebih dahulu
Simsalabim, kuingin prerogatifMu memihakku

Oh, Tuhan...
Sujudku pura-pura
Berlagak patuh supaya diupahi pujian
Padahal tak sedikitpun sujud itu bernilai ibadah. (Shulhan R)
Baca Selengkapnya >>>
0 komentar

Alkisah, di negeri gurun nun jauh di tanah Arab sana, hidup seorang sufi bernama Mullah yang kerap mengembara, masuk-keluar masjid dari satu kampung ke kampung lain demi menyiarkan Islam.

Suatu kali, di sebuah masjid yang baru didatanginya, ia nampak terburu-buru tuk menunaikan sholat berjamaah. Nahas baginya, usai sholat, ia mendapati keledainya hilang entah ke mana. Bukannya panik, sang Sufi malah berkata:

"Ya Allah, terimakasih Engkau telah menghilangkan keledaiku."

Sontak orang-orang yang mendengar ucapannya, terkaget-kaget, lantas bertanya, "Kenapa Anda bersyukur?

"Ya, karena keledai itu hilang saat saya tidak sedang menungganginya. Kalau tidak, saya bisa hilang bersama keledai itu." Jawabnya ringan. #CeritaSufi (Shulhan R)

*Mengelola kehilangan menjadi rasa syukur.

Baca Selengkapnya >>>
0 komentar

Bayangkan! Di mahkamah langit sana, milyaran doa-doa tengah berdiplomasi dengan Tuhan. Mereka datang dari seantero bumi, mewakili tiap hamba sebagai juru bicara.

Segala rengekan curhat dan permohonan akan harapan-harapan, pun disampaikan. Doa-doa hadir dalam rupa berbeda, cerminan dari siapa ia datang.

Barangkali, ada doa yang datang bergaun cantik juga berparas jelita sebab ia datang dari seorang sholehah. Pun sebaliknya, selengean dan compang-camping, lantaran ia diutus seorang berlagak parlente namun culas mengakali Tuhan.

Ingat, doa itu delegasimu juga juru negomu. Dari doa, kamu ketahuan, ketangkap basah, siapa kamu sebenarnya. (Shulhan R)
Baca Selengkapnya >>>
0 komentar

 
Berawal dari ngeblog, akhirnya bisa berbagi perspektif lewat buku & tulisan di media.

Perkembangan dunia blogging di era serba gadget ini, lebih dari sekedar jamur di musim penghujan. Setiap orang dimungkinkan mengabarkan apa saja, mulai hal terpenting sampai yang remeh-temeh. Karena banyak orang lakukan hal serupa, maka kita harus #Beranilebih dari itu.
Dengan motivasi berbagi, di awal 2010, saya mulai membuat blog. Hasilnya, hanya bertahan sebulan, blog itu saya biarkan karam. Selain tamplate yang gak kece dan miskin konten, saya juga bingung mengelolanya. Tak lama menjeda, Saya mulai nimbrung ngeblog bareng teman-teman di salah satu portal citizen journalism kala itu. Ndilalahnya, tulisan saya beberapa kali diganjar headline bersanding dengan para bloger kawakan. Saya pun jingkrak-jingkrakan bahagia, menemukan semangat baru, dan semakin keranjingan menulis.
Dari sana, saya mulai bermimpi menelurkan satu buku. Belum lagi niat itu terlaksana, Tuhan punya rencana lain yang lebih terstruktur dan sistematis. Tiba-tiba, seorang teman blogger meminta saya mengeditori novelnya. Dari situ, tawaran mengeditori buku, pun berdatangan. Akhirnya, niat menerbitkan buku menemui takdirnya. Skripsi saya terkait marketing politik, dipinang seorang doktor komunikasi politik untuk diterbitkan.
Buku saya: Komunikasi Politik Sebuah Pengantar yang nangkring di toko buku.

Tak berujung di situ, saya pun nekat mendirikan penerbit indi untuk gerakan sosial melek pendidikan. Saya memulai itu dengan projek Hibah 1500 Eksemplar Buku untuk pesantren-pesantren. Bermodal aktivitas ngeblog, saya meminta beberapa santri bloger untuk menuliskan kisah-kisah inspiraif mereka terkait pendidikan, tapi dengan catatan tidak dibayar alias pakai prinsip Depag “Ikhlas Beramal”. Satu-satunya royalti mereka adalah satu eksemplar bukti terbit. Alhamdulillah, semua bersedia.
Namun, masalah muncul, belum ada anggaran percetakan. Setelah wara-wiri cari donatur, ternyata saya selalu ditolak, dan tak sedikit yang sanksi gerakan ini. Padahal, naskah kadung diedit, sudah tahapan layout, cover sudah jadi, ISBN pun sudah punya. Masak iya, gagal? Seorang kawan menyarankan agar buku itu dijual dengan konsep bagi hasil, jadi sumbangan ke pesantren dialihkan dalam bentuk uang. Katanya, konsep ini bisa dipakai merayu donatur. Syukur, ada donatur yang bersedia. Saya bentuklah relawan marketing. Pascaterbit, tim pemasaran yang saya bentuk tiba-tiba pincang lantaran mereka sibuk bekerja. Saya mencoba membujuk supaya mereka mau melakukan pemasaran, tapi kenyataan berkata lain, tim itu akhirnya beku total.
Sisa saya seorang diri. Di depan sudah ada tagihan pengembalian modal si donatur. Saya diminta mengembalikan sekaligus modal yang belasan juta itu, dalihnya takut rugi karena tim marketing mandeg. Posisi saya kian terjepit, adangan-adangan itu membuat semangat saya tinggal remah-remah saja. Saya coba bernegosiasi, menyicilnya selama 6 bulan dengan nominal sekian. Negosiasi yang alot itu akhirnya dikabulkan. Besoknya, saya pindah kosan ke yang lebih murah meriah, fasilitas seadanya, tapi air buat mandi cukup bagus. :D. Thank God seems better, but it sounds a bit like lucky.
Apakah saya tamat? No…no…no…! Saya malah #BeraniLebih maju lagi. Semakin bersemangat menyambangi sekolah  membagi-bagi buku. Selain di Ciamis, saya membagikan buku-buku itu hingga ke beberapa sekolah dasar dan pesantren di pelosok Maluku. So, #BeraniLebih berbagi? Siapa takut!
Buku Kumcer yang akhirnya dibagi-bagi gratis ke sekolah dan pesantren
 
Membagi buku di Pontren Darussalam Ciamis. Buku dibagi gratis ke setiap SP3 yang ada di pesantren.

 
Sebagai editor

Memberi endorsement dalam buku ini



Sebagai editor





Facebook: Shulhan Rumaru
Twitter: @shulhanrmr
Google+: K. Arant


Baca Selengkapnya >>>
3 komentar

Partai politik sibuk berkontestasi
Demi citra poles sana-poles sini
Rakyat diberi janji-janji pragmatis
Ujung-ujungnya bosan lalu apatis
Janji politik dijadikan komoditas
Pemilu presiden, pemilukada, jadi pasar lelang politik
Ramai diskon besar-besaran dan bonus jabatan
Katanya ini produk unggulan, sekali waktu bisa berubah
Tergantung empunya mau jual janji apa
Ada janji manis, janji palsu tipu-tipu, pokoknya janji-janji
Ramai sekali parpol promosikan janji dalam partai besar
Kalau diborong harga bisa murah
Semua produk berlabel katanya, niatnya
Bahkan buka lowongan caleg di mana-mana
Nyatanya, Ibu tua jompo ditipu beras dan gula
Gadis-gadis manis dikasih apel Malang, apel Washington
Ah dasar politik dasamuka
Di tiap panggung janjinya beda-beda
Tak masalah dibilang oportunis
Asal terjual semua produk politik



Baca Selengkapnya >>>
0 komentar

Bruk…brak…bruk…bunyi genteng berjatuhan, satu persatu atap kosan terlucuti, debu mengepul sesaki kamar tengah. Bagian depan kosan sudah benar-benar melompong atapnya dan lantai kotor berserak pecahan genteng.
Saya terkaget bangun, tengok kanan-kiri tak seorang kawan pun ada, samar-samar saya mendengar suara kerumunan di luar kosan, dan tanpa pikir panjang saya langsung lari ke luar. Dalam kondisi sadar yang belum purna, saya menerka-nerka apa yang terjadi sampai kosan serusak itu.
“Untung saya gak ketimpa genteng, pingsan, dan masuk UGD,” pikir saya liar seketika. “Hah, kamu masih dalam kosan?” Bapak kos nampak kaget.
“Saya pikir sudah ke kampus, jadi saya suruh tukang bongkar kosan karena mau digabung dengan rumah saya. Direnovasi. Saya sudah sediain kosan baru. Maaf mendadak,” jelasnya.
“Astaga Pak, untung saya gak ketimpa genteng,” balas saya singkat. Dongkol.
Saya langsung minta turun harga, sebab pembongkaran dadakan itu nyaris membahayakan saya. Negosiasi berjalan alot, bapak kos bersedia kasih kosan satu petak seharga Rp 450 ribu, padahal kosan sebelumnya tiga petak, harga Rp 600 ribu. Saya sekukuh menawar Rp 350 ribu perbulan. Nihil, patok harga tak bisa dicabut, tetap 45′.
“Saya pindah kostan Pak, saya minta tiga hari cari kosan baru, sementara saya di sini dulu,” tegas saya.
“Oh, silakan,” jawabnya sambil lanjut mandor pembongkaran kosan.
Saya putuskan untuk tidak ngekos lagi di sana. Sembilan bulan sudah cukup. Kapok, pikir saya. Sedikit keluar dari radius kelurahan Semanggi, Ciputat, saya dapat kosan bagus di bilangan Legoso Timur, Ciputat juga. Saya jatuh hati pada pandangan pertama dengan kosan ini, seperti rumah minimalis, fasilitas ruang tamu, dua kamar tidur, satu ruang dapur, dan kamar mandi. Lebih istimewanya lagi, harganya persis Rp 600 ribu.
“Alhamdulillah, kalau susah begini ada aja balasan baiknya,” syukur saya.
Deal, kwitansi pembayaran sudah di tangan. Dibantu teman-teman, akhirnya pindah dan ngekost bertiga. Saya sekamar sendiri. Hari pertama dilewati tanpa keganjilan apapun, bahkan nyaris sempurna menikmati kepindahan ini. Hari kedua, kemeja putih milik Robi nampak menguning, sisa-sia zat besi dari air sumur bor mengubah warnanya. Lantai dasar bak pun penuh endapan zat besi. Fatalnya, masak nasi di magic jar pun menguning karena pakai air keran dapur.
“Aahhhh, kemeja baru gw jadi kuning, nasi bau besi, batal sarapan. Nasib…thank you,” ketus Robi pagi itu. Alhasil, kami ngelaundry semua pakaian kotor, tak mau ambil risiko lagi.
Kami langsung bergegas kuliah. Tak apalah satu baju yang rusak. Masih bisa dibeli besok tapi tidak dengan kosan yang murah ini. Maklum, mahasiswa doyannya kosan murah meriah, begitu alasan kami supaya tetap betah di kosan. Tapi, lebat guyuran hujan hari itu buat semuanya berubah. Saat pulang kuliah, kami harus menerjang banjir sekitar 35 sentimeter yang menutupi badan jalan di gang kosan, hampir selutut, dan kosan nyaris tergenangi.
“Yassalaaam…pindah, pindah, pindah. Ini musim hujan, bisa berbulan-bulan nasibnya begini terus,” celoteh Dani. Saya bergeming, tanpa sepatah kata membalas, langsung masuk kosan.
Jelang magrib, tampak warga di seberang kosan bersih-bersih sisa banjir di teras rumahnya. Kami pun sama, sibuk ngepel dan kuras bak mandi. Hampir sebulan berlalu, nasib masih sama. Sepakat, kami resmi pindah. Satu tahun 2006 yang berkesan, jauh dari Ambon datang jadi anak rantau pertama kali di Ciputat, Tangerang, disuguhi banjir dan aksi bongkar kosan dadakan. Benar kata kawan saya Robi, nasib.
Di awal Februari 2007 saat Jakarta darurat banjir sana-sini, lagi-lagi Ciputat pun senasib. Tak terkecuali anak kosan seperti saya.
“Kring…kring, Han…Shulhan…Han, kosan banjir, lemari ngambang, komputer kelelep. Kasur, buku, juga rusak,” lapor Robi lewat telepon. 
Dug, saya mendadak lemas, khawatir dokumen penting di lemari rusak.
“Ok, meluncur ke TKP,” jawab saya singkat.
Tiba di kosan, saya langsung cari ijazah, buku tabungan dll dalam lemari yang sebelumnya memang sudah dibungkus kantung plastik anti air dan dimasukkan dalam map dokumen sewaktu disimpan di lemari dulu. Syukur, dokumen selamat tapi yang lain ludes.  keesokannya langsung pindah kosan lagi. Kali ini, pertimbangan utama adalah lokasi bebas banjir.
Saya migrasi dari Kertamukti, Ciputat ke Kampung Utan bagian selatan komplek UIN Jakarta. Saya tempati kosan dua petak, satu kamar mandi, dan letaknya terhimpit antara gedung sekolah dan masjid. Hampir 6 bulan saya tak sempat bersapa dengan matahari pagi, letak kosan ini terlalu dalam ke jantung gang komplek yang berhimpit-himpit rumah. Akhirnya, pindah juga. Tak tahan terisolasi terlalu lama bak sedang berkontemplasi saja di kosan itu.
“Bu, saya pamit,” sambil salami Ibu Kos.
“Iya, kalu sempat main lagi ke sini,” ucapnya.
Akhirnya, saya merapat lagi ke Semanggi, Ciputat. Ya, masih tetap di Ciputat sebab kota ini seperti medan magnet semua aktivitas saya dan kawan-kawan, kuliah dan kerja. Puji Tuhan, kami dapat kosan Rp 700 ribu perbulan, tanpa pisah biaya listrik lagi, air bersih, tiga petak, dapur, satu kamar mandi, dan teras cukup luas untuk parkir motor. Sampah kosan pun diangkut petugas kebersihan setempat. Ditawari kasur gratis, lemari gratis, dan tentu kenal anak Ibu kos yang cantik lagi baik hati. Saya panggil dia Bu Presdir, sebab selain getol ingatkan bayar kosan, dia juga membolehkan telat bayar.
Tak lama dengan kesenangan itu, sebuah apartemen 18 lantai tengah di bangun tepat 5 meter di samping kosan. Hanya terpisah tembok tipis dan pagar kawat besi, ditambah debu coran bangunan hasil geber kerja 24 jam sehari, bising mesin beratnya, dan sinyal HP yang langsung SOS seperti kawasan bebas sinyal. Kini mencuat isu baru, pihak pengembang sedang negosiasi harga pembebasan lahan warga dan penggusuran. Duh, apa iya harus pindah lagi? Nasiiib.


Baca Selengkapnya >>>
2 komentar