Kau bertawaf dalam pikiranku
Mengelilingi kenangan yang terpancang
Berteduh di bawah langit hatiku
Hujan pun menabur pesonamu

Dari sekian doa
Yang aku tak tahu lagi berapa jumlahnya
Kuharap Tuhan menyajikannya
Sebagai kebahagiaan untukmu
Hanya teruntuk kamu
Kenangan (SR)
Baca Selengkapnya >>>
0 komentar


Kini rindu menjadi komoditas dalam bentuk narasi-narasi yang dipajang di etalase media sosial. Semua orang hanya butuh menunduk, memilah beberapa kata di antara tombol-tombol perangkat canggih mereka, lalu menjualnya dalam sekali tekan.

Pujangga sekarang  tak lagi pandai membaca puisi sebab rimanya telah digantikan emoticon dan bait-baitnya hanya 140 karakter yang berulang-ulang.

Mungkin saja, para jujaro masa kini lebih senang digumuli teks, ketimbang pita suara yang gombal. Duh, rindu masa kini seakan hanya teks dan gambar. Suara dan cumbu di telinga tak lagi menggelikan,  seperti masa dimana kita hanya hidup dalam narasi, dan mati saat suara mengumbar kesaksian terakhir.

Ah, ini seperti bunga yang menunggu serbuk sari dari ladang sebelah. Mereka tak berteriak, tapi menunggu angin membawanya bersama senyap.

Akankah aku membeli rindu yang dijual lewat narasi-narasi itu? Mungkin saja. Pasar sudah direkayasa bagi semua orang tuk menjajakan rindu lewat teks. (Shulhan R)
Baca Selengkapnya >>>
0 komentar

Sujudku transaksional
Sebab hanya kalau ada maunya
Sedikit mensejajarkan jidat dan hidung di atas sajadah
Lalu aku meminta sebanyak-banyaknya

Sujudku gratifikasi
Bermodal seonggok ketaatan yang sumir
Aku merengek meminta garis takdir yang baru
Tanpa mau berpayah-payah lebih dahulu
Simsalabim, kuingin prerogatifMu memihakku

Oh, Tuhan...
Sujudku pura-pura
Berlagak patuh supaya diupahi pujian
Padahal tak sedikitpun sujud itu bernilai ibadah. (Shulhan R)
Baca Selengkapnya >>>
0 komentar

Bayangkan! Di mahkamah langit sana, milyaran doa-doa tengah berdiplomasi dengan Tuhan. Mereka datang dari seantero bumi, mewakili tiap hamba sebagai juru bicara.

Segala rengekan curhat dan permohonan akan harapan-harapan, pun disampaikan. Doa-doa hadir dalam rupa berbeda, cerminan dari siapa ia datang.

Barangkali, ada doa yang datang bergaun cantik juga berparas jelita sebab ia datang dari seorang sholehah. Pun sebaliknya, selengean dan compang-camping, lantaran ia diutus seorang berlagak parlente namun culas mengakali Tuhan.

Ingat, doa itu delegasimu juga juru negomu. Dari doa, kamu ketahuan, ketangkap basah, siapa kamu sebenarnya. (Shulhan R)
Baca Selengkapnya >>>
0 komentar

Partai politik sibuk berkontestasi
Demi citra poles sana-poles sini
Rakyat diberi janji-janji pragmatis
Ujung-ujungnya bosan lalu apatis
Janji politik dijadikan komoditas
Pemilu presiden, pemilukada, jadi pasar lelang politik
Ramai diskon besar-besaran dan bonus jabatan
Katanya ini produk unggulan, sekali waktu bisa berubah
Tergantung empunya mau jual janji apa
Ada janji manis, janji palsu tipu-tipu, pokoknya janji-janji
Ramai sekali parpol promosikan janji dalam partai besar
Kalau diborong harga bisa murah
Semua produk berlabel katanya, niatnya
Bahkan buka lowongan caleg di mana-mana
Nyatanya, Ibu tua jompo ditipu beras dan gula
Gadis-gadis manis dikasih apel Malang, apel Washington
Ah dasar politik dasamuka
Di tiap panggung janjinya beda-beda
Tak masalah dibilang oportunis
Asal terjual semua produk politik



Baca Selengkapnya >>>
0 komentar