Derap langkah Waode terburu-buru. Ia merapat begitu cepat ke arahku, seperti hendak memburu sesuatu yang teramat penting. Semakin dekat, kulihat tapak kakinya yang tak beralas membongkar genangan air di atas trotoar tanpa peduli. Ia terus memacu langkah tanpa menghiraukan ujung celananya yang basah terpercik. Setibanya di area Gong Perdamaian Kota Ambon yang nampak membulat di tengah kota itu, Waode mensejajari badanku. Gerak-geriknya terlihat seperti sibuk memperhitungkan strategi yang bakal ia jalankan. Dua bola matanya secara cepat berganti arah ke kiri dan kanan mengawasi keadaan sekitar.

Setelah nampak sempurna perhitungannya, Ia maju perhalahan, membawa tubuh gempalnya menyeruak di antara kerumunan. "Permisi ibu, permisi bapak..." ia memberi tanda agar manusia dalam kerumunan itu segera membuka jalan. Terkadang ia meliuk-liuk dalam lautan manusia, lalu merunduk secepat kilat menangkap buruannya. Gerakannya lincah, tangkapannya tepat, kadang mengandalkan tangan kanan, kemudian berganti tangan kiri. Dalam 5 menit, sekitar 50 gelas plastik bekas air mineral kemasan sudah ia kantongi.

Waode kembali ke posisi semula, tepat di sampingku menitip hasil kerjanya, lalu segera membaur di antara sampah-sampah pasca upacara peringatan Hardiknas. Kini ia membawa kresek merah sedikit besar, berharap akan terisi penuh seperti sebelumnya. Kuperhatikan, ia melakukan pekerjaannya seorang diri nyaris tanpa saingan, kecuali para petugas kebersihan yang berhasrat melakukan hal serupa demi menambal gaji bulanan yang katanya selalu dipotong.

Sesekali Waode dibentak para petugas kebersihan, dilarang memungut bekas-bekas air mineral kemasan yang ada karena masih banyak orang di arena. Sadar tidak dalam kondisi tepat, Waode menjeda pekerjaanya penuh kecemasan. Ia tak ingin sumber rejekinya lebih dulu dipungut petugas kebersihan kota yang sudah menyapu sisi-sisi jalan. Setelah lengang kerumunan orang-orang, ia meneruskan kembali pekerjaanya tadi. Kali ini, sebuah keresek hitam di tangan kiri, sedang tangan kanannya sigap memungut plastik-plastik bekas.

Pelan-pelan senyum di bibir Waode mengembang meski pekerjaanya belum tuntas. Tak lama, ia menghampiriku, menghamburkan senyum terbaiknya. Memanfaatkan momentum, kini giliranku bekerja, sedikit merapat di antara tumpukan sampah hasil kerja Waode, aku lempar selembar senyum sekedar mengakrabkan diri. Satu pertanyaan pembuka, ia jawab dengan sisa-sisa senyum yang masih mengembang. Dua tiga pertanyaan berikutnya, kami tak lagi sekalipun bersitatap, sebab Waode nampak semakin sibuk. Kadang, ia meninggalkanku begitu saja, kembali memungut satu dua gelas plastik air mineral, lalu kembali menyambung pembicaraan. Laga Waode bak aktor-aktor Hollywood yang selalu sibuk saat meladeni lawan bicara. Ada saja yang mereka kerjakan meski sedang ada tamu. Nah, Waode benar-benar mengambil peran itu siang tadi. Walhasil, kusesuaikan ritme wawancara dengan kesibukannya. Tak apalah, bukankah itu pun sudah bagus? Diberi kesempatan mengobrol di tengah waktu kerjanya.

Perempuan peranakan Buton ini mengaku rejeki siang pasca upacara Hardiknas di Kota Ambon sudah cukup bila digabungkan dengan hasil pulungannya kemarin. Ia berharap, bisa mengais 50.000 rupiah hari ini, setidaknya lebih besar dari penghasilan sebelumnya yang hanya 20.000 rupiah. Tanpa membuang waktu, satu persatu plastik-plastik bekas itu ia sortir. Tak semua yang dipungut dapat dijual, sebab hanya kemasan bekas air mineral yang masih bagus saja yang diterima pengepul. Tangan Waode lincah menari-nari membersihkan satu per satu bekas gelas plastik air mineral, nampak seirama lagu dangdut dari arah panggung.



Meski sedang bahagia, raut wajah Waode seketika berubah dipicu pertanyaan seputar keluarganya. Kulihat, di pelupuk matanya telah menggenang bah kerinduan yang segera tumpah. Kepalanya menunduk, berusaha menyembunyikan kesedihan yang teramat berat. Perlahan, ia sorongkan wajahnya ke arah yang berseberangan dengan tatapanku. Sedikit berat suaranya mengayun pelan, mengabarkan sebuah kesedihan yang menyayat. "Bapak sudah meninggal, dek. Dulu Bapak bekerja sebagai nelayan, menjaring ikan sampai ke daerah Tual." Duh, remuk rasanya hatiku, ikut membasah. "Ibu dulu tidak bekerja, tapi sejak lima tahun lalu itu, akhirnya ibu kerja." Ia sambung kembali sejarah hidupnya yang menyayat itu, tanpa sempat kubalas kalimat sebelumnya.

Belum tuntas kesedihan karena rindu yang sempurna pada sang suami, cerita pilu lain menganga dari penggalan-penggalan kisah berikutnya. Kali ini, Waode merasa sangat sedih lantaran tak mampu menyekolahkan keenam anaknya. Satu-satunya jalan untuk meringankan beban hidup mereka adalah membiarkan anak-anaknya menikah. Kini, sudah empat anak menikah, masing-masing genap dalam keluarga kecil mereka. Tersisa dua anak seumuran siswa SMP dan SD yang juga kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan. Nahas bagi Waode, Hardiknas dari tahun ke tahun tak berdampak apapun bagi hidupnya, atau setidaknya bagi anak-anaknya yang ingin bersekolah. Satu-satunya kebahagian setiap kali Hardiknas adalah peluang memungut lebih banyak plastik-plastik bekas.

Mana bisa Waode menyekolahkan kedua anaknya, sedangkan uang hasil kerja hanya cukup makan sehari. Setiap pagi, Waode bersaing dengan puluhan penjajah kantong kresek lainnya di jantung Pasar Mardika. Harga jualnya pun hanya 500 rupiah per satu kantong. Seharian, paling banyak Waode mampu menjual 40 kantong. Baru 20.000 rupiah yang ia dapat setelah seharian membenamkan diri di tengah hiruk-pikuk pasar. Demi menunjang pemasukan, setiap sore giliran ia berkeliling memungut kemasan bekas air mineral. Itu pun ia kumpulkan berhari-hari, baru bisa dijual. Satu kilo plastik dipatok pengepul seharga 5.000 rupiah.

Waode tak terbiasa mengandalkan orang lain. Bahkan, anak kandungnya sekalipun. Ia tak pernah meminta uang dari keempat anaknya yang sudah berumahtangga. Pikir Waode, hidup anak-anaknya pun sudah susah, harus menafkahi keluarga dan menyekolahkan cucunya. Jadi, ia memilih bertopang di atas kakinya sendiri. Sungguh tak ada lagi senyum yang merambati ekspresinya kecuali kesedihan yang terus menggantung di sana. Waode tak berani menakar hidupnya, apakah serba kurang atau pas-pasan. Jangankan sepotong baju baru, beras dan lauk-pauk pun masih ia pikir-pikir tiap kali membeli. Sejak ditinggal suami yang berpulang lima tahun silam, yang diketahui Waode hanyalah bersyukur, menjalani hari-harinya demi sesuap nasi. [SR]


Baca Selengkapnya >>>
5 komentar

 
Berawal dari ngeblog, akhirnya bisa berbagi perspektif lewat buku & tulisan di media.

Perkembangan dunia blogging di era serba gadget ini, lebih dari sekedar jamur di musim penghujan. Setiap orang dimungkinkan mengabarkan apa saja, mulai hal terpenting sampai yang remeh-temeh. Karena banyak orang lakukan hal serupa, maka kita harus #Beranilebih dari itu.
Dengan motivasi berbagi, di awal 2010, saya mulai membuat blog. Hasilnya, hanya bertahan sebulan, blog itu saya biarkan karam. Selain tamplate yang gak kece dan miskin konten, saya juga bingung mengelolanya. Tak lama menjeda, Saya mulai nimbrung ngeblog bareng teman-teman di salah satu portal citizen journalism kala itu. Ndilalahnya, tulisan saya beberapa kali diganjar headline bersanding dengan para bloger kawakan. Saya pun jingkrak-jingkrakan bahagia, menemukan semangat baru, dan semakin keranjingan menulis.
Dari sana, saya mulai bermimpi menelurkan satu buku. Belum lagi niat itu terlaksana, Tuhan punya rencana lain yang lebih terstruktur dan sistematis. Tiba-tiba, seorang teman blogger meminta saya mengeditori novelnya. Dari situ, tawaran mengeditori buku, pun berdatangan. Akhirnya, niat menerbitkan buku menemui takdirnya. Skripsi saya terkait marketing politik, dipinang seorang doktor komunikasi politik untuk diterbitkan.
Buku saya: Komunikasi Politik Sebuah Pengantar yang nangkring di toko buku.

Tak berujung di situ, saya pun nekat mendirikan penerbit indi untuk gerakan sosial melek pendidikan. Saya memulai itu dengan projek Hibah 1500 Eksemplar Buku untuk pesantren-pesantren. Bermodal aktivitas ngeblog, saya meminta beberapa santri bloger untuk menuliskan kisah-kisah inspiraif mereka terkait pendidikan, tapi dengan catatan tidak dibayar alias pakai prinsip Depag “Ikhlas Beramal”. Satu-satunya royalti mereka adalah satu eksemplar bukti terbit. Alhamdulillah, semua bersedia.
Namun, masalah muncul, belum ada anggaran percetakan. Setelah wara-wiri cari donatur, ternyata saya selalu ditolak, dan tak sedikit yang sanksi gerakan ini. Padahal, naskah kadung diedit, sudah tahapan layout, cover sudah jadi, ISBN pun sudah punya. Masak iya, gagal? Seorang kawan menyarankan agar buku itu dijual dengan konsep bagi hasil, jadi sumbangan ke pesantren dialihkan dalam bentuk uang. Katanya, konsep ini bisa dipakai merayu donatur. Syukur, ada donatur yang bersedia. Saya bentuklah relawan marketing. Pascaterbit, tim pemasaran yang saya bentuk tiba-tiba pincang lantaran mereka sibuk bekerja. Saya mencoba membujuk supaya mereka mau melakukan pemasaran, tapi kenyataan berkata lain, tim itu akhirnya beku total.
Sisa saya seorang diri. Di depan sudah ada tagihan pengembalian modal si donatur. Saya diminta mengembalikan sekaligus modal yang belasan juta itu, dalihnya takut rugi karena tim marketing mandeg. Posisi saya kian terjepit, adangan-adangan itu membuat semangat saya tinggal remah-remah saja. Saya coba bernegosiasi, menyicilnya selama 6 bulan dengan nominal sekian. Negosiasi yang alot itu akhirnya dikabulkan. Besoknya, saya pindah kosan ke yang lebih murah meriah, fasilitas seadanya, tapi air buat mandi cukup bagus. :D. Thank God seems better, but it sounds a bit like lucky.
Apakah saya tamat? No…no…no…! Saya malah #BeraniLebih maju lagi. Semakin bersemangat menyambangi sekolah  membagi-bagi buku. Selain di Ciamis, saya membagikan buku-buku itu hingga ke beberapa sekolah dasar dan pesantren di pelosok Maluku. So, #BeraniLebih berbagi? Siapa takut!
Buku Kumcer yang akhirnya dibagi-bagi gratis ke sekolah dan pesantren
 
Membagi buku di Pontren Darussalam Ciamis. Buku dibagi gratis ke setiap SP3 yang ada di pesantren.

 
Sebagai editor

Memberi endorsement dalam buku ini



Sebagai editor





Facebook: Shulhan Rumaru
Twitter: @shulhanrmr
Google+: K. Arant


Baca Selengkapnya >>>
3 komentar

Pagi itu, udara di desa begitu dingin dan terasa menyergah hingga sumsum. Aroma khas udara pegunungan, kicauan aneka burung di balik rerimbunan hutan, ditambah irama deburan ombak musim timur, benar-benar menjadi pembuka hari yang berbeda dari biasanya. Perlahan saya mengamati suasana sembari mengedar pandangan ke sekitar rumah, menghela oksigen sebanyak-banyaknya dengan satu tarikan napas panjang lalu menghebuskannya lewat mulut. Saya melakukannya berkali-kali, dan dada saya terasa begitu lega melompong.
Tak lama, beberapa kawan dari Pecinta Alam Desa Kwaos (Kompak) datang dan meminta segera bersiap-siap karena agenda muncak ke gunung Samin dimajukan hari itu juga. Padahal, kegiatan muncak semula dijadwalkan pekan depan seusai kegiatan kepemudaan di desa. Namun karena perhitungan kondisi cuaca pegunungan yang kurang bersahabat, akhirnya dimajukan.




Alhasil, saya bawa bekal sealakadarnya saja. Tentunya, bekal khas orang Ambon yaitu sagu, ikan julung kering, cabai, garam, kacang telor, sebotol air mineral. Sekilas, bekal ini cocoknya bukan ke gunung tapi piknik ke pantai, hehehe. Saya juga gak lupa bawa obat-obatan. Kalau kawan-kawan lain, mereka bawa beras 3 kg per orang. Di luar logistik, ada yang bawa parang, panci, korek gas, senter, tali, terpal, gitar, bendera Indonesia, dll.
Awalnya saya khawatir, sebab ini baru pertama kali saya ikutan kegiatan muncak dan katanya medan ke puncak Samin cukup terjal, jauh, dan cuaca di gunung tak kondusif. Tapi karena jumlah kita cukup banyak sekitar 26 orang yang penasaran menaklukkan puncak Samin, jadinya saya juga bersemangat.
Sekilas tentang Gunung Samin ini, ia terletak di antara gunung-gunung di petuanan Kwaos, dataran Hunimua, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku. Ada beberapa gunung yang melingkar membentuk kubangan raksasa, lalu Gunung Samin berada tepat di dalam kubangan tersebut. Meski dalam kubangan, tinggi gunung Samin hampir setara dengan gunung-gunung di sekitarnya. Dalam perkiraan saya, ketinggian gunung Samin mendekati 600 mdpl. Memang tidak terlalu tinggi seperti rata-rata gunung di Pulau Jawa tapi tetap menarik didaki karena merupakan tipikal gunung basah atau lembap.



Tepat jam 6 pagi, kami sudah berkumpul di depan komplek sekolah SDN Desa Kwaos. Panitia mulai memberi pengarahan agar semua tetap dalam satu komando saat perjalanan, dan tiap orang diminta memastikan semua bekal sudah terbawa. Yang lebih penting, kami diharuskan bersikap bijak dan tidak bertingkah aneh selama menjelajah hutan, sebab diyakini area hutan Gunung Samin terdapat banyak keramat.
Kami keluar di ujung kampung untuk menembus rimba petuanan Kwaos (istilah petuanan adalah kawasan/wilayah kekuasaan, dalam hal ini raja Desa Kwaos). Selepas 20 meter dari ujung kampung, saya merasa sudah tenggelam dalam hutan belantara. Maklum saja, jenis hutan di sini adalah hutan hujan tropis, jadi semua pepohonan dan tanaman tumbuh subur dan sangat lebat.
Sebelumnya, kami sudah janjian dengan Kena Din sang pemandu yang lebih dulu ke pos pertama, menunggu kami sekitar 2 kilometer ke dalam hutan. Soal jelajah hutan, Kena Din lah jagonya, sudah sangat tau seluk-beluk hutan di sini, bahkan dia sering dijadikan pemandu (guide) oleh Dinas Kehutanan Maluku maupun mahasiswa dari Pulau Jawa yang ingin penelitian atau muncak di salah satu pegunungan dataran Hunimua.
Setelah 35 menit perjalanan, kami akhirnya bertemu Kena Din di kawasan Kalapa Dua dan istirahat sekitar 5 menit. Di sini, Kena Din mewanti-wanti kami supaya saling sapa atau bersuara sebagai kode kalau berjauhan, memperhatikan tanda jalan yang sudah dibuat oleh tim yang duluan menyisir jalan, hati-hati kalau ada hewan liar seperti babi hutan, anjing hutan, maupun ranjau-ranjau untuk tangkap rusa. Terakhir, katanya dia khawatir kalau saya tidak kuat jalan. Hemmm, poin terakhirnya semacam pelecehan yang sistematis, terstruktur, dan massif, hahaha.
Kami langsung dibagi tiga kelompok, yang pertama tim sapu jalan, kedua tim logistik, dan terakhir tim sapu jagat. Karena target sampai ke pos istirahat sekitar jam 5 sore, maka kami harus berjalan cepat. Rute ke pos istirahat memang cukup jauh dan memutar, jadi kami harus jalan cepat. Pos sasaran berikutnya adalah Duran Lean, Tawerak Kapitang, gunung batu Kulbakarina, dan masih banyak pos lagi. Oh iya, ini bukan pos seperti di kawasan pendakian Gunung Semeru atau Gunung Rinjani. Ini hanya pos bayangan yang kami bikin sendiri untuk sekedar melepas lelah dan menghela oksigen.
Karena matahari makin meninggi sekitar jam 7.30 WIT, kami harus segera bergegas. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami berhitung lagi untuk memastikan jumlah anggota tidak berkurang atau malah bertambah, hahaha. Menurut mitos di desa, biasanya ada “orang” atau makhluk astral yang suka menyembunyikan jalan di hutan sehingga tanpa terasa kita makin tersesat dari tujuan. Saya mulai parno, berasa seperti ikutan sebuah ekspedisi gaib, hahaha.
Kini kami mulai menjauh dari Kalapa Dua menuju kawasan Duran Lean. Dalam perjalanan, saya sibuk foto sana-sini karena memang sangat indah kawasannya, dipenuhi ribuan tumbuhan paku, jejak-jejak rusa dan babi hutan, juga bekas area yang terbakar hangus. Kami terus merangsek menembus rimba, betul-betul menerabas hutan, membuat tanda jalan sendiri dari patahan ranting, rotan atau batang kayu yang dikupas. Saya hanya membayangkan, andai saja tanpa guide, pasti kami sudah tersesat meski baru jalan 1 kilometer. Beberapa kali saya hampir hilang jejak karena salah membaca tanda jalan yang dibuat tim sapu jalan. Fatalnya, tidak satu pun dari kami yang bawa kompas.
Kami tiba di kawasan Tawerak Kapitang. Namun tanpa istirahat, kami langsung patah haluan menuju Kulbakarina. Jam di HP saya menandakan pukul 9, itu artinya butuh 2 jam perjalanan lagi. Ya, medan hutannya masih landai memang, tapi jauhnya itu yang gak nahan, rasanya pengen cepat-cepat sampai.
Tak lama lepas dari Tawerak Kapitang, udara sudah mulai dingin, cahaya matahari pun seperti terhalang lebatnya hutan, dan medannya mulai sedikit menanjak. Beberapa kali tim sapu jagat memberi kode suara, karena ketinggalan cukup jauh dari kawan-kawan logistik. Uoooooo, uoooo, uuuuuii…berasa tarzan deh pokoknya. Hahaha, dan kita pun silih bersahutan. Alhamdulillah, masih dalam radius aman karena ada balasan suara dari tim lain.
Kami mulai melintasi kali-kali kecil, mata air kecil, merangkak di bawah pepohon tumbang, dan sedikit menanjak. Pijakan batu-batu yang kurang kuat juga cukup merepotkan. Masalahnya, kalau salah berpijak, kita bakal menggelinding ke bawah. Medannya mulai terasa sedikit menguras energi. Di tengah jalan, Om Usman dan Om Tip memotong dan memikul sebatang kecil obat kuning. Katanya itu sejenis rotan kuning, dalam bahasa setempat disebut kayu Ara Kuning. Air hasil rebusannya diyakini sebagai obat kuning dll.
Pikir saya, kita baru saja menuju puncak dan pasti bakal repot kalau harus menambah beban. Benar saja, Om Usman mulai terkilir dan Om Tip sudah hosa gak karuan saat menanjak ke Kulbakarna. Safari yang juga ketua pendakian meminta mereka buang saja kayu obat itu karena puncak Gunung Samin masih sangat jauh. Sambil memastikan kondisi keduanya, kami lanjut jalan lagi dan tibalah di puncak Kulbakarina. Seketika lelah pun hilang, seperti tersihir pesona gua yang satu ini, menjulang sekitar 50 meter ke atas.



Untuk masuk ke dalam gua, kami harus menanjak dengan kemiringan sekitar 35 derajat dengan sedikit merangkak. Jalannya licin dan penuh dedaunan kering, salah langkah pasti tergelincir. Masing dari kami berpegangan pada batu-batu yang menyembul di balik timbunan daun-daun kering. Setelah sampai, masih butuh sedikit usaha lagi untuk masuk pintu gua, harus manjat dinding gua sekitar 3 meter. Di dalamnya, banyak kalong gelantungan, stalagmit dan stalagtit. Tak ada yang berani masuk lebih jauh karena kondisi gua sangat gelap.
Sekitar 20 menit di Kulbakarina, kami langsung tancap ke mata air di kaki Gunung Suru dan berencana makan siang di sana. Sampai di sana, kami bagi tugas, ada yang ambil kayu bakar dan memasak. Karena kita hanya bawa beras dan mie, saya pikir cuma itu menu makan siangnya. Ternyata, di luar dugaan saya, teman-teman sudahmanggurebe tangkap guran alias udang air tawar. Wow, akhirnya menu lunch kami kali ini, seafood.



Sambil nunggu menu racikan koki andalan si Gotam, saya narsis ria di mata air bersih yang langsung dialirkan ke kampung lewat pipa-pipa besar untuk digunakan warga. Di sekitar situ ada kolam air bersih alami lainnya yang dibilang Sefur Kapal. Tanpa menunggu lama, saya langsung terjun. Huh, segernya minta lagi, lagi, dan lagi. Dijamin ketagihan kalau berenang di sini. Selain jernih, air ini bisa langsung diminum. Oh iya, dinamai Sefur Kapal karena bentuknya seperti bumbungan kapal dan gemuruh angin di situ terdengar seperti suara kapal. Di zaman penjajahan, lokasi ini dijadikan tempat persembunyian warga.
Setelah kenyang, kami langsung lanjut perjalanan menuju puncak Gunung Suru dan Air Terjun Kelbasusah. Saya jadi gak sabaran karena ini spot yang paling saya tunggu. Dalam perjalanan, kami sempat memutar sebuah tembok alam setinggi 7 meter dengan panjang kira-kira 300 meter. Saya terkesima karena ini batu alam yang nampak seperti tembok Cina atau sebuah benteng pertahanan. “Jangan-jangan di zaman penjajahan Belanda, banyak warga kampung yang lari sembunyi ke sini,” seloroh Kena Din di tengah perjalanan.
Lewat dari tembok ini, kami mulai menanjak sekitar 45 derajat ke puncak Gunung Suru. Tinggi gunung ini sektar 1500 mdpl. Sulit untuk berjalan konstan karena medan yang berat. Hampir semua dari kami sangat kelelahan di medan satu ini. Selain penuh dedaunan kering, banyak sekali batu-batu putih besar. Untungnya, banyak pepohonan, jadi bisa berpegangan dan pelan-pelan mulai menanjak. Kami juga menemukan beberapa pohon yang jadi komoditas pasar yaitu pohon damar, pohon gaharu, dan rotan.

Setelah di puncak, semua lelah lepas begitu saja lantaran hamparan hutan yang begitu luas langsung memanjakan mata. Harus diakui, berada di puncak Gunung Suru itu seperti berada di atap belantara hutan Hunimua. Ke mana pun kita mengedar pandangan, mata langsung tertumbuk gunung-gunung lain yang memancang kokoh, ada Gunung Salagur, Gunung Sengan dan Gunung Samin. Tak hanya itu, hamparan hutan yang luas dan berbukit-bukit pun terlihat rata bak setapak.
Sementara asyik menikmati permadani hijau yang terhampar itu, ternyata kami terpisah jauh dari kelompok 1 dan 2 yang sudah turun lebih dulu ke air terjun Kelbasusah untuk mendirikan camp di sekitar situ dan mulai memasak. Sekitar 30 menit di puncak, kami bergegas menyusul karena khawatir hilang jejak. Medan turunnya pun ini sedikit memutar lereng gunung yang cukup licin dan tanah yang lembap. Saya sempat terpeleset dan meluncur ke bawah seperti main perosotan, untungnya ada kayu yang bisa saya pegang, kalau tidak, bisa tamat riwayat detik itu juga. Sejujurnya, saya malah senang perosotan alami begitu, semacam ada rasa puas setelah hormon adrenalin saya dipacu insiden itu.
Kami tiba di Kelbasusah jam 5.30 sore, langsung disambut suguhan kopi hangat dan lagu-lagu daerah yang dinyanyikan teman-teman. Dulunya, area ini adalah air terjun dan kali besar. Sayangnya, sudah kering karena tertutup longsor besar. Dalam pengamatan saya, kepala air terjun ini setinggi 30 meter dan lebar kalinya sektar 15 meter.
Malam sudah mulai menutup langit-langit hutan, sebuah camp kecil sudah siap, dan api unggun pun sudah manyala. Kami langsung mendendang lagu-lagu khas Maluku, sesekali deselingi tembang nostalgia Lola Drakel dan MOP Papua. Biar suasana semakin membakar, saya langsung bagi-bagi kacang telor manis. Hasilnya jos, kayaknya pada semangat nyanyi, dan saya pun tertidur. Sayangnya, malam itu hujan deras jadi kami harus tidur baku sosak (desak-desakan) dalam satu tenda kecil itu.

Paginya, koki Gotam sudah masak bubur. Benar-benar bukan menu sarapan di gunung, malah berasa kayak di rumah saja. Satu catatan, teman-teman ini makannya banyak banget. Seperti kata Abdur waktu stand up Kompas TV, “Orang timur kalo timba nasi, hemm…gunung Semeru.” Sumpah, nasi segunung pake nambah, bila perlu nambah sagu kalau ada.hehehe. saya kwatir, bekal bakal habis hanya dalam 1 dua hari, padahal kita rencana 3 hari 2 malam sesuai rute ke puncak Gunung Samin.
Hujan masih lebat, kami belum bisa bergegas. Tepat jam 9 hujan reda dan kami bergegas menuju kawasan Afi Ka. Ini adalah area dimana berhektar-hektar tanaman paku terbakar hangus puluhan tahun lalu akibat kemarau panjang, makanya disebut Afi Ka (Api yang Menyala). Berdasarkan penuturan orang di kampung, saking besarnya api, orang kampung bisa melihat membaranya api dan area pegunungan menjadi warna kuning kemerahan saat malam hari.
Menuju Afi Ka cukup berat karena terus menanjak, pijakan yang licin sehabis hujan menjadi kendala terberat.  Tiba di kawasan ini, masih ada sisa-sisa lahan kering akibat kebakaran hebat itu, namun hijaunya hamparan tanaman paku membuat semua tragedi itu seolah tak pernah ada. Tinggi tanaman pakunya sekitar 2 meter, saya tenggelam di tengahnya, bahkan saat terjatuh pun berasa memantul di atas springbed,empuk sangat. Di kawasan ini, Om Usman menanam bibit pala, cengkeh, dan kelapa. Dia berharap bisa panen suatu saat (Wih, jauh amat kalau harus panen, berat di ongkos Om.hehehe).



Di sini kami puas-puasin bernarsis ria dan menancap satu bendera putih yang dibubuhi tanda tangan semua anggota pendaki, ya buat tanda kenangan saja. Hampir dua jam hanya untuk sesi pemotretan.hehehe. saya sendiri sudah menyiapkan tema foto yang bakal saya lakuin di gunung, yaitu “membaca alam”. Saya sengaja bawa buku hanya untuk properti foto ini, karena unik, kawan-kawan pun ikutan. Dalam setahun belakangan, saya terobsesi berpose di mana pun dengan buku, konsepnya “membaca di mana saja dan kapan saja”.
Setelah puas foto-foto, kami langsung menanjak lagi menuju puncak Samin. Di tengah kumpulan tanaman paku, kami juga menemukan spesies endemik langka yang jumlahnya banyak di Indonesia yaitu Kantong Semar (genus nepenthes). Indonesia memiliki 64 varian spesies kantong semar yang tersebar di seluruh wilayah. Sekitar 32 jenis spesies tumbuhan karnivora ini, adanya di Kalimantan. Kebetulan, yang saya temuin itu kantong semar Papua jenis nepenthes mirabilis.


Kami terus ke puncak, karena hujan, sebagian teman-teman memutuskan langsung ke kali Air Keta. Sedangkan saya dan 5 orang lainnya memaksa merangsek ke puncak. Namun karena hujan yang makin deras, angin yang begitu kencang, akhirnya kami hanya sampai di bibir puncak saja. Sudah cukup puas, dari sana kami bisa melihat ombak mengibas putih di pantai Kabupaten Seram Bagian Barat. Kami pun menancapkan satu bendera merah putih, dibiarkan berkibar sebagai bukti bahwa kami pernah ke sana.
Setelah puas di puncak, kami menyusul kawan-kawan, tiba di kali Air Keta sekitar pukul 4 sore, kami nginap di sana semalam. Kali ini tendanya dibuat sedikit besar, beralas daun-daun lebar. pokoknya jauh lebih bagus dan nyaman dari campsebelumnya. Kawan-kawan lain ada yang tangkap udang, ada yang mancing, dan ada yang mandi. Bisa bayangin kan, para perjaka timur sedang mandi bareng? Ini semacam badadra yang mandi di kali, dengan warna pelangi yang kelabu semua.hahaha.
Keesokan harinya, kami langsung bergegas keluar hutan dengan rute menyusuri panjangnya menuju kampung Leantasik. Berjalan sekitar 5 jam, kami istirahat di tubir kali Air Keta untuk makan siang. Di sana, ada banyak batu intan yang diambil teman-teman. Mulanya batu kekuningan itu dikira emas, masing-masing berebut jatah, ternyata itu intan. Perjalanan kami lanjutkan, tepat jam 2 siang kami tiba di kampung Lintasik, lalu menyusuri jalan setapak ke Desa Suru.
Di jembatan Desa Suru, kami sempat foto-foto lagi, seakan-akan tak ingin melewati satu spot pun tanpa dokumentasi.  Dan akhirnya, hanya butuh tiga kilo meter lagi, kami pun tiba di Desa Kwaos tanpa kurang satu apapun.
Akhirnya, saya hanya bisa mengambil hikmah bahwa Tuhan menghamparkan hutan, memancangkan gemunung, untuk kita tafakkuri dan syukuri atas nikmatnya pengembaraan hidup ini. (SR)
Tulisan ini terlebih dulu diposting di www.kompasiana/shulhan
Baca Selengkapnya >>>
0 komentar