Selembar daun tua nampak lunglai. Ia terkapar kehabisan tenaga, seperti akan tercerabut dari sepotong ranting yang digelayutinya sejak hijau dulu. Keriput epidermis dan warna yang berganti kecoklatan, menunjukkan usia sebenarnya; sudah tak memungkinkan lagi baginya menjadi bagian dari kelompok fotosintesis dedaunan muda.

Lemas sudah, pasrah, kini ia menunggu angin membawa ajalnya. Satu dua kibasan, bergoyang batang daunnya pelan, lalu empasan ketiga membuat daun tua itu terkoyak. Terombang-ambinglah dirinya yang sendiri, ke depan, ke belakang, terhuyung ke kiri, lalu ke kanan mengikuti arus angin. Ia pasrah. Sembari menikmati kejatuhannya, daun tua itu sempat mengulang memori baktinya pada sang pohon yang masih tegak menjulang. 

Napasnya telah tersengal, tertahan satu-satu, dan mulai melemah. Semakin ke bawah, sisa-sisa cadangan oksigennya kian menipis. Yang ia rasakan kini, tarikan paksa gravitasi mengempaskannya ke bumi. Dan tatkala hampir menyentuh permukaan, daun tua itu menyadari; dari tanah, akhirnya kembali ke tanah.  #ceritamini #shulhanrumaru




Baca Selengkapnya >>>
0 komentar

Lihat gambar di atas baik-baik, dan begini ceritanya...

Dulu, sewaktu nyantri di Ciamis, sandal jepit swallow hijau gw suka ilang diambil santri lain (sesekali hanya dighosob alias dipake gak bilang2, trus udah lama baru dibalikin). Alhasil, gw bikin kayak di gambar persis. Tulisannya,  USTADZ (capital letters) dan tentunya gw gembok pula (biar makin aman). Alhamdulillah, hari itu, jadi Sholat Jumat terkhusyu gw krn gak was-was lagi bakal kehilangan sandal. Lah kok, selesai Jumatan, masih tetep ilang? Arrrggg, sumpah kesel ke ubun-ubun dong gw. Lantas, gw usutlah siapa pelaku "kejahatan" itu. 😁

Di tengah ke-riweuh-an bercampur kesal yang berkecamuk, tiba-tiba datang seorang kawan dgn wajah berbinar penuh bahagia, dan bilang:

"Han..." hahaha...ketawa terbahak seolah menjeda sebuah cerita yg bakal kocak abis.

"Ini hari, bakal jadi cerita indah gw seumur hidup..." hahaha...ketawa lagi tnp gw tau apa yang mau dia ceritain.

"Tadi, gw buang sandal jepit USTADZ kita di pembuangan sampah besar. Gila, lagian pake digembok segala..." haa... "Pok..." belum sempat dia tuntasin ketawanya, satu "tamparan" manis mendarat di pipinya.

"Itu punya gw, coooyyyy...." Tanpa komando, doi langsung ngikut gw ke TKP dan ambil lagi sandal kesayangan itu, JEPIT Swallow hijau. Sekian!!! 😂😁
#nyantiituasyik #nostalgiasantri #cetitajamannyantri
Baca Selengkapnya >>>
0 komentar
shutterstock.com


Perempuan tua itu menghadap pantai, menyapu pandangan pada sekumpulan ombak yang berlomba ke arahnya. Ia masih duduk membelakangi kawanan kamboja dan aku melewatinya. Lagi, ia masih bergeming. Nampak seperti ia menanti kenangan. Tiga kali sudah, saat keringat mulai melewati parit-parit kecil di wajahku dan dada yang mulai hosa memompa udara, aku beranikan diri menyapanya sembari mengatur istirahat.

"Sepagi dini, nenek kenapa di sini?"

"Berdialog dengan angin," jawabnya tanpa menoleh ke arahku.

"Masih dingin, nek. Angin pasti mengoyak keriputmu."

"Ah, anak muda, merasa tau segala ihwal. Kamu hanya melihat sejauh matamu, seperti para birokrat myopia."

"Aku merasa terhibur di sini. Kesunyian yang ramai. Tak seperti sepi dalam keramaian manusia mekanis di jantung pulau ini." Ia menyambung kalimat yang seakan terputus tadi, tanpa membiarkanku menyuguh balasan.

"Siapa yang menghiburmu?"

"Dia, lelaki itu." Ditunjuknya sebongkah karang yang dihantam ombak bertubi-tubi.

Kuperhatikan, ia seakan berbincang dengan masa lalu. Pasti teramat indah, sampai ia terburu-buru ke pantai ini dengan berkebaya lusuh sebelum matahari menunjukkan kuasanya. Aku tak abis pikir, sepahit itu kah kenangan bila ia tinggalkan? Siapa lelaki misterius di karang sana? Tak tega rasanya, melihat tubuh tua itu melawan dingin dan embun yang basah, hanya untuk duduk di sini. Letih pun hilang, ku hela napas perlahan dan dalam sekedar memberi jeda pada obrolan kami.

"Nak, saat bulan purna berpayung pelangi, aku dan segerombolan anak kura-kura bermain di sini. Kami melawan beberapa burung jagal yang mau mematuk telur saudara mereka. Sesekali ku tutup rapat lubang-lubang yang digali sang induk untuk mengeram telurnya dengan rumput dan sedikit pasir. Lalu, lelaki itu datang membawa sebagian lain untuk dilepas ke laut."

Aku hidmat, mendengar ia melanjutkan cerita meski pun aku tak tau dari mana datangnya. Yang aku tahu, perempuan tua ini lebih dulu tiba di tubir pantai saat aku datang.

"Bulan pake payung, teteruga batalor..." Suara paraunya melantunkan lagu klasik kala aku masih 10 tahun. Lagu yang mengabarkan aktivitas kura-kura betina menghabiskan masa betelurnya di pesisir pantai saat bulan purnama.

Hmmm, perempuan tua itu seakan tau lagu kesukaanku tempo dulu. Sepertinya ia sedang menebak masa kecilku, dimana aku bermain di pinggir pantai saat bulan bundar sepenuhnya berhias pelangi, dan butiran pasir putih yang terlihat bak pecahan kaca memantulkan cahaya.

Aku menatapnya lekat-lekat. Pilu bagiku membaca kenangan di mata perempuan tua itu, begitu penuh, sesak, dan belum lapuk meski uzur merenggut usianya. Aku seakan diajarkan bertelanjang dengan masa lalu. Diajarkan jujur pada kenyataan, tentang apa saja, tentang rindu.

"Aku masih muda belia, waktu itu. Sama seperti gadis lain yang sedang mekar. Banyak lelaki menyuguhkan budi, menampakkan sisi maskulin, memburu bak kumbang menghisap habis saripati. Tapi lelaki itu, lain. Sangat lain." Kisahnya sambil mengarahkan telunjuk ke karang yang sama.

“Ah... mungkin dimasa mudanya, jakun para lelaki sulit menari. Bahkan, mereka banyak meminum liur sendiri lebih dari kebutuhan delapan gelas seharian. Nampak gurat keriputnya masih menyisakan kecantikan parasnya bertahun silam…”

"Dia memfilsafatiku." Sedak tangisnya membongkar lamunanku. Duh, iIngin sekali kupungut air matanya biar tak berserakan. Tapi, lelaki juru kunci di belakang perempuan tua itu teriak mengagetkan.

"Jangan lama-lama di situ. Sudah bertahun lapuk dia menatap karang dan membelakangi ratusan kuburan di sini, menunggu ajal bersama kenangannya."

Iya, sudah waktunya aku pulang. Matahari nampak merayap naik dengan cepat. Aku terpaksa meninggalkan perempuan tua itu, yang sayup-sayup sempat ku dengar ia merapal; "Amin", menimpali lelaki tadi. (SR)

Baca Selengkapnya >>>
0 komentar

Alkisah, di negeri gurun nun jauh di tanah Arab sana, hidup seorang sufi bernama Mullah yang kerap mengembara, masuk-keluar masjid dari satu kampung ke kampung lain demi menyiarkan Islam.

Suatu kali, di sebuah masjid yang baru didatanginya, ia nampak terburu-buru tuk menunaikan sholat berjamaah. Nahas baginya, usai sholat, ia mendapati keledainya hilang entah ke mana. Bukannya panik, sang Sufi malah berkata:

"Ya Allah, terimakasih Engkau telah menghilangkan keledaiku."

Sontak orang-orang yang mendengar ucapannya, terkaget-kaget, lantas bertanya, "Kenapa Anda bersyukur?

"Ya, karena keledai itu hilang saat saya tidak sedang menungganginya. Kalau tidak, saya bisa hilang bersama keledai itu." Jawabnya ringan. #CeritaSufi (Shulhan R)

*Mengelola kehilangan menjadi rasa syukur.

Baca Selengkapnya >>>
0 komentar

Bruk…brak…bruk…bunyi genteng berjatuhan, satu persatu atap kosan terlucuti, debu mengepul sesaki kamar tengah. Bagian depan kosan sudah benar-benar melompong atapnya dan lantai kotor berserak pecahan genteng.
Saya terkaget bangun, tengok kanan-kiri tak seorang kawan pun ada, samar-samar saya mendengar suara kerumunan di luar kosan, dan tanpa pikir panjang saya langsung lari ke luar. Dalam kondisi sadar yang belum purna, saya menerka-nerka apa yang terjadi sampai kosan serusak itu.
Untung saya gak ketimpa genteng, pingsan, dan masuk UGD,” pikir saya liar seketika. “Hah, kamu masih dalam kosan?” Bapak kos nampak kaget.
Saya pikir sudah ke kampus, jadi saya suruh tukang bongkar kosan karena mau digabung dengan rumah saya. Direnovasi. Saya sudah sediain kosan baru. Maaf mendadak,” jelasnya.
Astaga Pak, untung saya gak ketimpa genteng,” balas saya singkat. Dongkol.
Saya langsung minta turun harga, sebab pembongkaran dadakan itu nyaris membahayakan saya. Negosiasi berjalan alot, bapak kos bersedia kasih kosan satu petak seharga Rp 450 ribu, padahal kosan sebelumnya tiga petak, harga Rp 600 ribu. Saya sekukuh menawar Rp 350 ribu perbulan. Nihil, patok harga tak bisa dicabut, tetap 45′.
Saya pindah kostan Pak, saya minta tiga hari cari kosan baru, sementara saya di sini dulu,” tegas saya.
Oh, silakan,” jawabnya sambil lanjut mandor pembongkaran kosan.
Saya putuskan untuk tidak ngekos lagi di sana. Sembilan bulan sudah cukup. Kapok, pikir saya. Sedikit keluar dari radius kelurahan Semanggi, Ciputat, saya dapat kosan bagus di bilangan Legoso Timur, Ciputat juga. Saya jatuh hati pada pandangan pertama dengan kosan ini, seperti rumah minimalis, fasilitas ruang tamu, dua kamar tidur, satu ruang dapur, dan kamar mandi. Lebih istimewanya lagi, harganya persis Rp 600 ribu.
Alhamdulillah, kalau susah begini ada aja balasan baiknya,” syukur saya.
Deal, kwitansi pembayaran sudah di tangan. Dibantu teman-teman, akhirnya pindah dan ngekost bertiga. Saya sekamar sendiri. Hari pertama dilewati tanpa keganjilan apapun, bahkan nyaris sempurna menikmati kepindahan ini. Hari kedua, kemeja putih milik Robi nampak menguning, sisa-sia zat besi dari air sumur bor mengubah warnanya. Lantai dasar bak pun penuh endapan zat besi. Fatalnya, masak nasi di magic jar pun menguning karena pakai air keran dapur.
Aahhhh, kemeja baru gw jadi kuning, nasi bau besi, batal sarapan. Nasib…thank you,” ketus Robi pagi itu. Alhasil, kami ngelaundry semua pakaian kotor, tak mau ambil risiko lagi.
Kami langsung bergegas kuliah. Tak apalah satu baju yang rusak. Masih bisa dibeli besok tapi tidak dengan kosan yang murah ini. Maklum, mahasiswa doyannya kosan murah meriah, begitu alasan kami supaya tetap betah di kosan. Tapi, lebat guyuran hujan hari itu buat semuanya berubah. Saat pulang kuliah, kami harus menerjang banjir sekitar 35 sentimeter yang menutupi badan jalan di gang kosan, hampir selutut, dan kosan nyaris tergenangi.
“Yassalaaam…pindah, pindah, pindah. Ini musim hujan, bisa berbulan-bulan nasibnya begini terus,” celoteh Dani. Saya bergeming, tanpa sepatah kata membalas, langsung masuk kosan.
Jelang magrib, tampak warga di seberang kosan bersih-bersih sisa banjir di teras rumahnya. Kami pun sama, sibuk ngepel dan kuras bak mandi. Hampir sebulan berlalu, nasib masih sama. Sepakat, kami resmi pindah. Satu tahun 2006 yang berkesan, jauh dari Ambon datang jadi anak rantau pertama kali di Ciputat, Tangerang, disuguhi banjir dan aksi bongkar kosan dadakan. Benar kata kawan saya Robi, nasib.
Di awal Februari 2007 saat Jakarta darurat banjir sana-sini, lagi-lagi Ciputat pun senasib. Tak terkecuali anak kosan seperti saya.
Kring…kring, Han…Shulhan…Han, kosan banjir, lemari ngambang, komputer kelelep. Kasur, buku, juga rusak,” lapor Robi lewat telepon. 
Dug, saya mendadak lemas, khawatir dokumen penting di lemari rusak.
“Ok, meluncur ke TKP,” jawab saya singkat.
Tiba di kosan, saya langsung cari ijazah, buku tabungan dll dalam lemari yang sebelumnya memang sudah dibungkus kantung plastik anti air dan dimasukkan dalam map dokumen sewaktu disimpan di lemari dulu. Syukur, dokumen selamat tapi yang lain ludes.  keesokannya langsung pindah kosan lagi. Kali ini, pertimbangan utama adalah lokasi bebas banjir.
Saya migrasi dari Kertamukti, Ciputat ke Kampung Utan bagian selatan komplek UIN Jakarta. Saya tempati kosan dua petak, satu kamar mandi, dan letaknya terhimpit antara gedung sekolah dan masjid. Hampir 6 bulan saya tak sempat bersapa dengan matahari pagi, letak kosan ini terlalu dalam ke jantung gang komplek yang berhimpit-himpit rumah. Akhirnya, pindah juga. Tak tahan terisolasi terlalu lama bak sedang berkontemplasi saja di kosan itu.
Bu, saya pamit,” sambil salami Ibu Kos.
Iya, kalu sempat main lagi ke sini,” ucapnya.
Akhirnya, saya merapat lagi ke Semanggi, Ciputat. Ya, masih tetap di Ciputat sebab kota ini seperti medan magnet semua aktivitas saya dan kawan-kawan, kuliah dan kerja. Puji Tuhan, kami dapat kosan Rp 700 ribu perbulan, tanpa pisah biaya listrik lagi, air bersih, tiga petak, dapur, satu kamar mandi, dan teras cukup luas untuk parkir motor. Sampah kosan pun diangkut petugas kebersihan setempat. Ditawari kasur gratis, lemari gratis, dan tentu kenal anak Ibu kos yang cantik lagi baik hati. Saya panggil dia Bu Presdir, sebab selain getol ingatkan bayar kosan, dia juga membolehkan telat bayar.
Tak lama dengan kesenangan itu, sebuah apartemen 18 lantai tengah di bangun tepat 5 meter di samping kosan. Hanya terpisah tembok tipis dan pagar kawat besi, ditambah debu coran bangunan hasil geber kerja 24 jam sehari, bising mesin beratnya, dan sinyal HP yang langsung SOS seperti kawasan bebas sinyal. Kini mencuat isu baru, pihak pengembang sedang negosiasi harga pembebasan lahan warga dan penggusuran. Duh, apa iya harus pindah lagi? Nasiiib.


Baca Selengkapnya >>>
2 komentar